Rabu, 21 November 2007

PELATIHAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI KEPADA GURU

M. Amin Sunarhadi, Dilahur, dan Priyono
Fakultas Geografi
Universitas Muhammadiyah Surakarta

ABSTRACT
The training aims at improving the capability of the training
participants – teachers – for teaching Geography Information System by
(1) giving information and introduction about the process in implementing
SIG for the teachers of senior high schools (SMA/MA). (2) Demonstrating
how to operate the technology of geography information system and (3)
socializing the existence and technological implementation system of
SIG. the methods used are speech, discussion, peer teaching and practice.
The place to practice it is in the laboratory of Geography faculty of UMS.
The participants are allowed to operate hardware and software of SIG.
The result of pretest by using questioner and brainstorming shows that
most of the participants master SIG in cognitive domain in comprehension
level for the theory of SIG, while for its operation; they are in perception
level of psychomotor domain. At the end of the training, the participants
show that there is the change of comprehension about the theory of SIG
from cognitive level to implementation level, whereas in the operation of
SIG, the change is from perception level to implementation with guidance.
The result of training is supplemented by the response of the participants
which is appropriate to the target score. The response of the task of
identification is the use of map and SIG in teaching Geography which
finds that teaching Geography in senior high schools (SMA/MA) is
directed to 3 targets: 1. analyzing the impulse of physical nature and the
development of the shape of the earth and its reservation. 2. Evaluating
social impulse in the earth and its interaction as well as its effect to our
life and 3. Using the concept of region and graphic in understanding
location, design, distribution and the relationship among the objects
involved the specification for industry.
Kata kunci: Sistem Informasi Geografi (SIG), pelatihan guru SMA/MA.
26 WARTA, Vol . 10, No. 1, Maret 2007: 25 - 35

PENDAHULUAN
Geografi adalah ilmu yang mempelajari permukaan bumi dengan
menggunakan pendekatan keruangan, ekologi, dan kompleks wilayah.
Fenomena yang diamati merupakan dinamika perkembangan dan
pembangunan wilayah yang ada dalam keseharian, misalnya informasi mengenai
letak dan persebaran dari kejadian-kejadian alamiah maupun fenomena
terdapatnya sumberdaya. Ketersediaan data yang bersifat geografi, dimana
memiliki atribut utama keruangan, akan memudahkan banyak kepentingan.
Pengetahuan mengenai informasi geografi penting dimiliki oleh masyarakat
luas sebagai bagian pemahaman mengenai sumberdaya maupun kerentanan
bencana yang mungkin terjadi di sekitarnya. Arti penting ini diwujudkan dengan
adanya pengajaran Ilmu Geografi dari mulai tingkat Sekolah Menengah hingga
perguruan tinggi. Pengajaran Geografi pada Sekolah Menengah Atas berkaitan
materi khusus Sistem Informasi Geografi diberikan secara terstruktur pula
dalam kurikulum.
Kurikulum berbasis kompetensi pada mata ajar Geografi tingkat SMA/
MA semestinya diimbangi dengan tersedianya perangkat dan pengetahuan/
ketrampilan guru yang memadai. Keterbatasan perangkat pada pengajaran
Geografi tidak saja untuk materi Sistem Informasi Geografi namun hampir
pada semua perangkat pendukung materi Geografi. Hal ini disebabkan tidak
tersedianya Laboratorium Geografi di SMA.
Berkaitan khusus dengan materi SIG, pengajaran materi ini di SMA/MA masih
memiliki hambatan meskipun telah mendapatkan dukungan teknis melalui
PPAG. Hambatan ini adalah adanya kelemahan pengetahuan dan penguasaan
materi SIG oleh guru pengajar. Hal ini disebabkan karena:
1. Pada saat guru menjalani pendidikan S1 belum mendapatkan materi SIG
sebagai bekal materi pengajarannya mengingat saat itu SIG belum masuk
dalam kurikulum pengajaran S1,
2. Guru pengampu mata ajar Geografi mempunyai latar belakang non geografi,
dan
3. Guru mempelajari SIG melalui pustaka tidak melalui praktek langsung.
Permasalahan tentang kesulitan siswa memahami tentang SIG (teknologi
pemetaan digital) adalah salah satu permasalahan yang terus dihadapi oleh
sistem pembelajaran geografi di lingkungan SMA; teknologi SIG hanya
dipahami secara sederhana oleh para siswa dan guru dalam batas-batas
pengetahuan teoritis saja, disebabkan oleh keterbatasan SDM serta keterbatasan
penyediaan sarana perangkat SIG baik keras maupun lunak yang memerlukan
Pelatihan Sistem Informasi ... (Amin Sunarhadi, dkk.) 27
beaya cukup besar. Pelatihan ini mempunyai tujuan untuk meningkatkan
kemampuan guru dalam materi SIG sehingga akan berdampak pada
peningkatan kualitas pembelajaran SIG di SMA/MA.
METODE PEMECAHAN MASALAH
Khalayak sasaran kegiatan pengabdian ini adalah guru SMA/MA di
wilayah Karisidenan Surakarta. Adapun guru SMA/MA yang dipilih adalah
sebagaimana pada Tabel 1 dengan pertimbangan bahwa sebagian SMA/MA
tersebut telah melakukan kerja sama dengan BKKP-SPW Fakultas Geografi.
Sebagian yang lain merupakan SMA/MA yang aktif mengikuti kegiatan di
Fakultas Geografi UMS, yaitu pada Olimpiade Geografi Tahun 2005.
Klasifikasi guru yang diutamakan adalah mereka yang melakukan pengajaran
Geografi. Hal ini mempertimbangkan kemampuan mereka untuk meningkatkan
ketertarikan calon-calon mahasiswa setelah lulus dari sekolahnya untuk
menekuni Geografi di UMS.
Kegiatan ini dilaksanakan dengan menggunakan metode ceramah,
diskusi, pengajaran antar sejawat (peer teaching) dan demonstrasi/praktek.
Pelatihan berjalan dengan mendasarkan pada kondisi awal peserta serta target
pelatiha yang ingin dituju. Hal ini dipandu dengan menggunakan Taksonomi
Bloom yang mengklasifikasikan domain pembelajaran, dalam hal ini domain
kognitif dan psikomotor.
Pelatihan memberikan kesempatan peserta untuk praktek/demonstrasi
serta mencoba mengoperasikan perangkat komponen Sistem Informasi
Geografi (SIG), baik perangkat keras maupun lunak. Strategi pembelajaran
utama dalam pelatihan ini adalah dengan menggunakan pembelajaran berbasis
karya (project based learning). Strategi ini membimbing peserta pelatihan
untuk melakukan aktivitas secara langsung untuk membuat suatu karya yang
merupakan proyek individual, yaitu membuat peta dan mengorganisir datanya
dalam SIG. Selain itu dipergunanakan juga strategi elisitasi dan evaluasi sejawat
(peer evaluation).
Pertimbangan efektivitas kegiatan maka demonstrasi/praktek hanya
dibatasi satu kelas saja dengan peserta antara 13 orang guru Geografi. Tempat
kegiatan dilaksanakan di Laboratorium Fakultas Geografi UMS.
HASIL DAN PEMBAHASAN
SIG adalah sistem berbasis komputer yang digunakan unuk menyimpan,
memanipulasi, dan menganalisa informasi geografi beserta atribut-atributnya.
28 WARTA, Vol . 10, No. 1, Maret 2007: 25 - 35
Untuk dapat memahami Sistem Informasi Geografi (SIG), ada baiknya bila
memahami terlebih dahulu pengertian dari tiga pokok SIG yaitu sistem,
informasi, dan geografi.
Sistem didefinisikan sebagai sekumpulan obyek, ide, berikut saling
keterhubunganya (inter-relasi) dalam mencapai tujuan atau sasaran bersama.
Dalam hal ini sistem sering disebut pemrosesan data (data processing )
sedangkan untuk memahami informasi, perlu dipahami dulu tentang data karena
data dan informasi saling terkait. Data merupakan suatu kenyataan apa adanya
(raw facts) sedangkan informasi adalah data yang ditempatkan pada konteks
yang penuh arti oleh penerimanya.
Atribut informasi adalah atribut-atribut/kualitas-kualitas yang berkaitan
dengan konsep informasi yang membantu di dalam mengidentifikasikan dan
mendeskripsikan kebutuhan-kebutuhab informasi yang spesifik. Sistem
informasi adalah untuk menyediakan dan mensistematikan informasi yang
merefleksikan seluruh kejadian atau kegiatan yang diperlukan.
Pelatihan memberikan materi dasar SIG yang berbasis sistem bagi
peserta. Hal ini disesuaikan dengan hasil pre test yang dilakukan dimana hampir
seluruh peserta perlu pemahaman dasar subsistem SIG, yaitu:
1. Input, mengumpulkan dan memprsiapkan data spasial dan ata atribut dari
berbagai sumber data. Data yang diguakan harus dikonversikan menjadi
format digital yang sesuai. Salah satu teknik mengubah data analog menjadi
data digital adalah dengan digitasi mengunakan digitizer.
2. Manipulasi, penyusaian terhadap data masukan untuk proses lebih lanjut,
misalnya penyamaan skala, pengubahan sistem proyeksi, generalisasi dan
sebagainya.
3. Managemen data, digunakan Data Base Management System (DBMS)
untuk membantu menyimpan, menorganisasi dan mengelola data.
4. Query, penelusuran data menggunakan lebih dari satu layer dapat
memberikan informasi untuk analisis data dan memperoleh data yang
diinginkan, contoh:
5. Ada berapa jumlah kelurahan di propinsi Jawa Tengah ?
6. Desa mana saja yang curah hujan sangat tinggi ?
7. Analisis, kemampuan untuk analisis data spasial untuk memperoleh
informasi baru. Pembuatan model skenario “What If” salah satu fasilitas
yang banyak dipakai ialah analisis tumpang susun pata (Overlay).
Pelatihan Sistem Informasi ... (Amin Sunarhadi, dkk.) 29
8. Visualisasi, penyajian hasil barupa informasi baru atau basis data yang
ada baik alam bentuk softcopy maupun dalam bentuk hardcopy seperti
dalam bentuk : peta, tabel, grafik dan lain-lain.
Pemahaman peserta pelatihan mengenai sistem SIG, yang menjadi pijakan
pemahaman teori dan operasi SIG, menunjukkan pemahaman yang baik. Hal
ini diketahui dari hasil penjajagan kemampuan peserta dengan menggunakan
kusioner yang menanyakan data diri mereka. Selanjutnya, dengan brainstorming
di awal pelatihan, didapatkan jawaban mengenai pengalaman mereka
dalam mengoperasikan komputer serta SIG. Jawaban dari peserta kemudian
diklasifikasikan dalam domain pembelajaran dari Taxonomy Bloom.
Taksonomi Bloom mengklasifikasikan bahwa domain belajar terdiri atas
tiga, yaitu domain kognitif, afektif, dan psikomotor (Hisyam Zaini, dkk. 2001).
Pelaksanaan pelatihan SIG memerlukan landasan teori terlebih dahulu, yang
berkaitan erat dengan domain kognitif. Selanjutnya pada sesion praktik banyak
didominasi domain psikomotor.
Hasil penjajagan melalui kuesioner dan brainstorming, sebagai pretest,
menunjukkan gambaran bahwa penguasaan SIG peserta hampir
semuanya untuk domain kognitf dalam taraf pemahaman (comprehension)
teori SIG dan untuk pengoperasian SIG dalam taraf persepsi (perception)
domain psikomotor.
Kondisi domain kognitif awal peserta yang berada dalam level
pemahaman (comprehension) teori SIG menunjukkan peserta telah pada level
2 pembelajaran SIG (pengetahuan à pemahaman). Level pengetahuan SIG
(level 1) ditunjukkan dengan kemampuan peserta saat brainstorming mengenai
kegiatan ini pada awal pelatihan. Peserta dapat mengungkapkan istilah umum,
fakta, dan prinsip dalam SIG. Saat dihadapkan dengan visualisasi berbagai
peta tematik, peserta memberikan respon dengan istilah maupun penamaan
yang tepat (identifikasi, label, dan penggambaran). Level pemahaman (level
kedua pembelajaran) teori SIG ditunjukkan pada saat peserta mampu
memberikan penjelasan dan contoh prinsip dalam SIG serta menafsirkan
mekanisme input-proses-output dalam SIG.
Pada akhir pelatihan menunjukkan adanya perubahan penguasaan teori
yang dapat dilihat dimana peserta mencapi level penerapan (application) teori
SIG. Penerapan SIG adalah sebagai sekumpulan obyek, ide, berikut saling
keterhubunganya (inter-relasi) dalam mencapai tujuan atau sasaran bersama.
Dalam hal ini sistem sering disebut pemrosesan data (data processing ),
30 WARTA, Vol . 10, No. 1, Maret 2007: 25 - 35
sedangkan untuk memahami informasi, perlu dipahami dulu tentang data karena
data dan informasi saling terkait. Data merupakan suatu kenyataan apa adanya
(raw facts), sedangkan informasi adalah data yang ditempatkan pada konteks
yang penuh arti oleh penerimanya.
Pada akhir pelatihan menunjukkan adanya perubahan penguasaan teori
yang dapat dilihat dimana peserta mencapi level penerapan (application) teori
SIG. Penerapan SIG adalah sebagai sekumpulan obyek, ide, berikut saling
keterhubunganya (inter-relasi) dalam mencapai tujuan atau sasaran bersama.
Dalam hal ini sistem sering disebut pemrosesan data (data processing), sedangkan
untuk memahami informasi, perlu dipahami dulu tentang data karena data dan
informasi saling terkait. Data merupakan suatu kenyataan apa adanya (raw facts),
sedangkan informasi adalah data yang ditempatkan pada konteks yang penuh
arti oleh penerimanya.
Peserta dapat menunjukkan bahwa atribut informasi adalah atribut-atribut/
kualitas-kualitas yang berkaitan dengan konsep informasi yang membantu di
dalam mengidentifikasikan dan mendeskripsikan kebutuhan-kebutuhan informasi
yang spesifik. Sistem informasi adalah untuk menyediakan dan mensistematikan
informasi yang merefleksikan seluruh kejadian atau kegiatan yang diperlukan
untuk mengenalikan operasi-operasi organisasi.
Pada level penerapan ini, peserta telah dapat mendemonstrasikan
metode dan prosedur dalam SIG. Selain itu, peserta telah mulai memunculkan
gagasan-gagasan dalam menggunakan SIG untuk pemecahan masalah berbasis
informasi spasial.
Level Kognitif Awal Peserta Pelatihan SIG
Sederhana
Sulit
• Pengetahuan (Knowledge)
• Pemahaman (Comprehension)
• Penerapan (Application)
• Analisis (Analysis)
• Sintesis (Synthesis)
• Evaluasi (Evaluation)
Kondisi Awal peserta
Akhir Pelatihan
Pelatihan Sistem Informasi ... (Amin Sunarhadi, dkk.) 31
Kondisi domain psikomotor awal peserta yang berada dalam level
persepsi operasi SIG menunjukkan peserta ada pada level 1 pembelajaran
SIG. Level persepsi operasi SIG ditunjukkan dimana peserta mengenali fungsifungsi
alat yang dibutuhkan dalam pelatihan.
Pada akhir pelatihan peserta menunjukkan perubahan dalam operasi SIG
dari level persepsi dalam level gerakan terbimbing. Pada level psikomotor ini,
peserta telah dapat mempertunjukkan cara pembuatan peta dan memperbaiki
kesalahan yang ada dalam proses mengoperasikan SIG sesuai dengan contoh
yang diberikan. Contoh diberikan dalam bentuk modul pelatihan yang diharapkan
secara mandiri dapat dipergunakan secara mandiri untuk melatih penguasaan
operasi SIG paska pelatihan yang diikuti.
Level Psikomotor Awal Peserta Pelatihan SIG
Sederhana
Sulit
• Persepsi (Perception)
• Kesiapan (Set)
• Gerakan Terbimbing (Guided Response)
• Gerakan Terbiasa (Mechanism)
• Gerakan Kompleks
• (Complex overt Response)
• Penyesuaian Pola Gerakan (Adaptation)
• Kreativitas (Origination)
Kondisi Awal peserta
Akhir Pelatihan
Penilaian pada akhir pelatihan dilengkapi dengan penilaian secara
kuantitatif melalui responsi oleh instruktur. Responsi dilakukan dalam 2 bentuk,
yaitu responsi berupa kuis dan penugasan identifikasi penggunaan peta dan
SIG dalam kurikulum SMA/MA. Identifikasi ini dilakukan individu kemudian
dikonfirmasikan kepada peserta lain untuk mendapatkan hasil identifikasi yang
plaing tepat.
Hampir pada setiap kompetensi Geografi SMA/MA memerlukan
penggunaan SIG dalam pengajarannya. Dalam hal ini, SIG tidak saja di maknai
sebagai perangkat komputer namun juga sebagai bagian-bagian darinya, yaitu
input, proses, dan outputnya. Pembelajaran Geografi pada tingkat SMA/MA
diarahkan pada 3 (tiga) sasaran pendidikan pada siswa agar terbentuk generasi
muda yang mampu untuk (1) menganalisis gejala alam fisik dan perkembangan
bentuk muka bumi serta pelestariannya, (2) mengevaluasi gejala sosial di muka
32 WARTA, Vol . 10, No. 1, Maret 2007: 25 - 35
bumi beserta interaksinya dan pengaruhnya terhadap kehidupan, dan (3) menggunakan
konsep wilayah dan grafikasi dalam memahami lokasi, pola,
penyebaran dan hubungan antar obyek, termasuk spesifik untuk industri.
Hasil pembelajaran Geografi ini, pada tataran kepentingan nasional,
akan turut membentuk manusia Indonesia yang membawa masa depan bangsa
dan negara pada keadilan dan kesejahteraan dimana potensi sumberdaya dapat
dimanfaatkan secara optimal, kerentanan bencana dari bahaya lingkungan dapat
Tabel 3. Kurikulum Geografi Berbasis Kompetensi Analisis Gejala Alam Fisik
dan Proses Pembentukan Bumi (Kelas X SMA/MA)
(Gambar 1).
SEKTOR
- Sumberdaya Manusia
- Sumberdaya Alam dan
Lingkungan
- Kependudukan
- Pembangunan Daerah
- Prasarana dan Sarana
- Pendidikan
Pembelajaran Geografi
SMP-SMA/MA-PT
Generasi yang mampu
menganalisis gejala
alam fisik, gejala sosial,
dan menggunakan
konsep wilayah.
Manusia Indonesia yang membawa masa
depan bangsa dan negara pada keadilan dan
kesejahteraan dimana potensi sumberdaya
dapat dimanfaatkan secara optimal, kerentanan
bencana dari bahaya lingkungan
dapat dikurangi, dan pemanfaatan ruang
lokal maupun nasional menjadi terpadu
Gambar 1. Arti penting pengetahuan dan pemahaman Geografi dalam pengembangan sumberdaya
manusia dan kepentingan nasional
Pembelajaran Geografi memerlukan media dan peralatan agar siswa
dapat mengetahui dan memahami proses kajian Geografi dan lingkup yang
dapat diperankan dalam mengatasi masalah masyarakat dan pembangunan.
Peralatan dan media yang dipergunakan terutama yang berkaitan dengan
informasi geografi yang dipergunakan dalam kajiannya. Manajemen informasi
Pelatihan Sistem Informasi ... (Amin Sunarhadi, dkk.) 33
geografi dilakukan dalam sebuah sistem yang disebut sebagai Sistem Informasi
Geografi (SIG). Berdasarkan pola sistem maka SIG terdiri atas tiga fase, yaitu
Masukan – Proses – Keluaran. Pada masing-masing fase membutuhkan media
pembelajaran agar terjadi proses belajar mengajar yang efisien, efektif, dan
berarti (meaningful). Peta dan citra (fotografik maupun satelit) merupakan
media utama dalam pembelajaran Geografi baik itu pada fase masukan, proses,
maupun keluaran.
Berdasarkan hal ini maka kebutuhan keterampilan pengelolaan data
spasial melalui SIG bagi guru SMA/MA sangat diperlukan. Penggunaan materi
dasar maupun aplikasi SIG merupakan bagian mutlak dari pelaksanaan
pembelajaran berbasis kompetensi.
Kompetensi adalah sekumpulan pengetahuan, ketrampilan, sikap, dan niali
sebagai kinerja yang berpengaruh terhadap peran, perbuatan, prestasi, serta
pekerjaan seseorang (Yulaelawati, 2004). Pengetahuan merupakan pengetahuan
tentang fakta atau prosedur. Ketrampilan adalah keterampilan kognitif atau
perilaku sedangkan karakteristik personal adalah ciri pembawaan individu.
Pada masing-masing kompetensi terdapat tuntutan untuk membentuk
tiga golongan ranah, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hal ini dilakukan
dengan berbagai alat dan media pembelajaran sebagaimana yang ada pada
Geografi. Kompetensi pada Geografi mutlak membutuhkan berbagai alatb
peraga terutama yang berkaitan peta dan citra, baik yang sifatnya hasil fotografik
maupun satelit.
Media pembelajaran adalah semua bentuk perantara yang dipakai
penyebar atau penggagas untuk sampai pada penerima (Ruseffendi, et. al., 1982).
Penggunaan peta dan citra dalam pemebelajaran Geografi sangat mendominasi
dan mutlak adanya. Meskipun sebetulnya saat ini telah berkembang pemetaan
dengan berbasis digital sehingga pemahaman tentang peta tidak harus selalau
dalam bentuk lembaran namun juga dapat berbentuk dijital. Data dan informasi
spasial tersebut, dalam bentuk dijital, diolah dan dikelola dalam satu sistem
manajemen yaitu Sistem Informasi Geografis (SIG).
SIMPULAN DAN SARAN
a. Simpulan
Tiga konsep dasar SIG adalah sistem, informasi, dan geografi. Sistem
didefinisikan sebagai sekumpulan obyek, ide, berikut saling keterhubunganya
(inter-relasi) dalam mencapai tujuan atau sasaran bersama. Dalam hal ini sistem
34 WARTA, Vol . 10, No. 1, Maret 2007: 25 - 35
sering disebut pemrosesan data (data processing), sedangkan untuk memahami
informasi, perlu dipahami dulu tentang data karena data dan informasi saling
terkait. Data merupakan suatu kenyataan apa adanya (raw facts), sedangkan
informasi adalah data yang ditempatkan pada konteks yang penuh arti oleh
penerimanya.
Hasil penjajagan melalui kuesioner dan brainstorming, sebagai pretest,
menunjukkan gambaran bahwa penguasaan SIG peserta hampir semuanya untuk
domain kognitf dalam taraf pemahaman (comprehension) teori SIG dan untuk
pengoperasian SIG dalam taraf persepsi (perception) domain psikomotor.
Pada akhir pelatihan peserta menunjukkan perubahan penguasaan teori
SIG dari level kognitif pemahaman menjadi level penerapan. Adapun dalam
operasi SIG dari level persepsi dalam level gerakan terbimbing.
Pembelajaran Geografi pada tingkat SMA/MA diarahkan pada 3 (tiga)
sasaran, yaitu (1) menganalisis gejala alam fisik dan perkembangan bentuk
muka bumi serta pelestariannya, (2) mengevaluasi gejala sosial di muka bumi
beserta interaksinya dan pengaruhnya terhadap kehidupan, dan (3) menggunakan
konsep wilayah dan grafikasi dalam memahami lokasi, pola, penyebaran dan
hubungan antar obyek, termasuk spesifik untuk industri. Hasil pembelajaran
Geografi ini, pada tataran kepentingan nasional, akan turut membentuk manusia
Indonesia yang membawa masa depan bangsa dan negara pada keadilan dan
kesejahteraan dimana potensi sumberdaya dapat dimanfaatkan secara optimal,
kerentanan bencana dari bahaya lingkungan dapat dikurangi, dan pemanfaatan
ruang lokal maupun nasional menjadi terpadu.
b. Saran
Peningkatan kapasitas guru-guru Geografi perlu dilanjutkan dan siperluas
khalayak pesertanya mengingat pemahaman spasial melalui praktek oleh guru
dalam pelatihan sangat membantu mereka dalam mengajarkan mata pelajaran
Geografi.
Mengingat adanya kesenjangan media ajar dalam mencapai tujuan
pembelajaran berbasis kompetensi Geografi di SMA/MA maka diperlukan
adanya upaya praktis oleh perguruan tinggi dalam mengembangkan inovasi
media ajar bersama sekolah (SMA/MA).
Pelatihan Sistem Informasi ... (Amin Sunarhadi, dkk.) 35
DAFTAR PUSTAKA
Antenucci, et al. 1991. Geographic Information Sistems. A Guide to The
Technology. New York: Van Nostrand Reinhold.
Hartono. 1996. Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografi serta
Aplikasinya. Yogyakarta: FG UGM.
Hisyam Zaini, Sekar Ayu Ariyani, Bermawi Monthee. Desain Pembelajaran,
Yogyakarta: CTSD-UIN.
Jacob Rais. 1993. “Pokok-Pokok Perkembangan dalam Penataan Sistem
Informasi Geografi Nasional”. Bahan Ceramah di UI Jakarta.
Mas Sukoco. 1985. Kartografi Dasar. Yogyakarta: FG UGM.
Mas Sukoco dan Sukwarjono. 1993. Pengetahuan Peta. Yogyakarta: FG
UGM.

Tidak ada komentar: